Kamis, 11 September 2014

FAH Akan Adakan Seminar Internasional

Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar dalam waktu dekat ini akan melaksanakan Seminar Internasional "Islam, Literacy and Local Culture" sebagai rangkaian kegiatan Forum Dekan dan Dosen Ilmu-Ilmu Adab (ADIA) se Indonesia. Adapun pembicara dalam seminar tersebut diantaranya Gubernur Sulsel, Prof Dr H dede Rosyada, M.A, Prof Dr Rahim Yunus, M.A, Prof Dr Kathryn Wilson, Prof Dr Stephen Druce, Prof Dr H Rohani H.A. Gani, Dr H Adanan H. Basar, Dr Hj A Majdah Agus Arifin, dan Wahyuddin Halim, MA.

 Kegiatan yang akan diadakan pada tanggal 31 Oktober sampai dengan 2 November juga menjadi ajang pertemuan Almuni FAH dalam rangkaian acara tersebut. Bagi yang ingin berpatisipasi, silahkan hubungi contact person yang ada di poster ini.

Jumat, 05 September 2014

Kreativitas dalam Menyambut Mahasiswa Baru

Ada yang menarik dalam Penyambutan Mahasiswa Baru di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin tahun ini, saat diadakan prosesi kirab sebagai penyambutan, tampak para Pimpinan FAH menunggangi kuda dengan mengenakan pakaian adat Bugis-Makassar. Keunikan yang ditampilkan oleh para Panitia PMB yang berasal dari BEM FAH dan HMJ sejajaran ini menjadi perhatian para sivitas akademika pada saat berlangsungnya ceremonial tersebut.

Barisan cerah dengan pernak-pernik kuning digunakan para mahasiswa baru semakin memberikan kesan yang ceria dan meriah, apalagi di iringi suara gendang khas lokal yang semarak. Seperti tahun sebelumnya, kegiatan ini merupakan sebuah upacara memasuki fakultas bagi adik-adik mahasiswa baru. Kegiatan ini selain menampilkan kreativitas mahasiswa, juga membangun silaturahmi yang lebih terbuka kepada seluruh sivitas akademika FAH.

Selama 2 hari mahasiswa baru FAH di perkenalkan suasana akademik dan kampus. Selain itu, para mahasiswa yang tergabung dalam HMJ dan BEM juga menyampaikan urgensi dan manfaat dalam berorganisasi. Disamping itu para pimpinan fakultas, jurusan, dosen-dosen dan staf mengenalkan diri dan tugasnya masing-masing. Semoga tahun berikutnya lebih kreatif dan membangun mahasiswa FAH yang lebih kreatif.

Selasa, 15 April 2014

HIMAJIP UIN Alauddin Gelar Seminar Nasional

Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar mengadakan kegiatan Seminar Nasional Perpustakaan “Transformasi Kepustakawanan Indonesia di Era Informasi di Audiotrium UIN Alauddin Makassar, kemarin (27/3/2014). 


Pada kegiatan ini hadir sebagai pembicara yaitu Nilma,S.Sos,MM (Ketua IPI Sulsel), Dr. Muh. Nadjib,M.Lib (Kepala Perpustakaan UNHAS), Kepala BPAD Sulsel, dan Tulus Wulan Juni Pustakawan Berpestasi Sulsel. Kegiatan ini dihadiri juga oleh ketua Jurusan Ilmu perpustakaan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa jumlah mahasiswa Ilmu Perpustakaan di UIN Alauddin Makassar sekitar 600-an orang dan telah melahirkan alumni sekitar 250 orang, dan patut disyukuri bahwa 100% semuanya telah terserap didunia kerja terutama di Perpustakaan.

Perkembangan teknologi informasi yang harus bertransformasi ada 3 hal yaitu Perpustakaan, Pustakawan/Penerjemah dan Pusat Informasi. Akibat transformasi teknologi maka juga berakibat transformasi sosial. Ciri-ciri era informasi segala sesuatunya terdiri dari informasi, pekerja-pekerja seperti pedagang dan petani tergantung kepada informasi informasi seperti masyarakat di Singapura. Pada intinya seorang pustakawan harus merubah perilaku, menambah pengetahuan dan wawasan agar searah teknologi, sehingga pustakawan sejajar dengan profesi yang lain bahkan dapat menjadi penting, Ujar Dr. Muh. Nadjib, M.Lib (Kepala Perpustakaan UNHAS) yang juga selaku narasumber.

Minggu, 06 April 2014

PENTAS PERKENALAN Komunitas Seni Adab (KisSA)

Komunitas Seni Adab KisSA baru-baru ini pada awal bulan april melakukan pentas perkenalan dalam rangka perekrutan anggota baru atau biasa di sebut PEKA SENI VI.
    
Pada kegiatan ini, banyak pementasan yang dilakukan KisSA diantaranya, Teater Arena yang membawakan naskah dari salah satu senior KisSA yaitu Kanda Muh. Taufiq Syam yang berjudul lobby. adapun dalam teater ini dimainkan oleh 4 orang anggota KisSA yaitu Arang, Zul, Marsu, dan Atika. dalam pementasan teater ini ternyata direspon baik oleh penonton karena memiliki makna yang sangat mendalam yang tidak bisa di ungkapkan oleh mahasiswa, lewat teater ini kami bisa mengungkapkannya. Disisi lain KisSA juga mementaskan Musik dan Puisi, Puisi yang di bawakan adalah karya-karya dari anak KisSA itu sendiri.
    Di Sekretariat panitia PEKA SENI VI (TPS VI), KisSA juga melakukan pameran karya dari anak KisSA sendiri, ada berbagai macam puisi, rupa, dan masih banyak lagi,
Komunitas Seni Adab (KisSA) selalu dan akan selalu berkarya karena yang menjadi motiviasi mereka untuk berkarya adalah KARENA NAMA AKAN MATI TANPA KARYA.

Rabu, 26 Maret 2014

UP GRADING BEM-FAH

Baru-Baru Ini BEM-FAH UIN Alauddin Makassar mengadakan UP GRADING pada tanggal 21-22 Maret 2013 yang bertemakan "Keberagaman dalam membangun kebersamaan berlembaga" bekerja sama dengan HIMABSA dan HIMABSI, kegiatan ini dihadiri oleh hampir seluruh pengurus BEM-FAH, dan di buka langsung oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Adab dan Humaniora.
  
Dalam UP GRADING ini, banyak materi-materi yang sangat berguna yang di turunkan untuk menjadi pengetahuan awal bagi pengurus untuk melaksanakan tugasnya di dalam lembaga ini. Adapun yang menjadi pemateri adalah mantan Ketua BEM FAH yang sedikit banyaknya mengetahui problem-problem yang ada di dalam lembaga serta bagaimana cara mencarikannya solusi.

Kamis, 06 Maret 2014

TAN MALAKA DAN PELARANGAN DISKUSI

Irsan, Pustakaman Studio Baca Alauddin
Sudah dilangit kami melintas
terbang melayang kebumi lain.
Namun Akal pantang tewas
Asal masyarakat terus menjamin. (Tan Malaka, Madilog) 
Tanggal 19 Februari 1949 adalah hari yang misteri dan tragis buat Ibrahim Datuk Tan Malaka mengusung revolusi dan kemerdekaan Indonesia. Tepat pada hari ini 65 tahun yang lalu, Tan Malaka mengakhiri perjuangannya, oleh tembakan yang menidurkan ia selamanya. Tan Malaka adalah tokoh yang kontroversial dalam sejarah pemerintahan Indonesia, mulai dari pra kemerdekaan hingga saat ini. Tetapi namanya masih berkibar dan berkobar oleh manusia-manusia yang setia dengan ideologinya dan antuasias mengkaji karya-karyanya. Dalam Berbagai literatur, Tan Malaka dianggap sebagai tokoh gerakan kiri, sebagaimana dipaparkan oleh Harry A Poeze dalam bukunya Pergulatan Politik Tan Malaka 1925-1945. Ini bisa dilihat ketika ia aktif dalam gerakan kiri yang saat itu berjuang melepaskan bangsa dari belenggu kapitalisme, imperalisme dan kolonialisme. Bagi Poeze banyak karangan dan pemikiran Tan Malaka yang orisinil, berbobot dan brilian.

Rabu, 19 Februari 2014

KERJA MAKSIMAL PROGRAM KERJA BEM-FAH

Baru-baru ini BEM-FAH melaksanakan Rapat Keja periode kepengurusan 2014-2015 pada tanggal  1-2 Februari 2014 di Benteng Somba Opu Makassar. Kegiatan yang bertema "Terwujudnya Maasiswa Fakultas Adab dan Humaniora yang Berkarakter dan Berkarya" di hadiri oleh para pengurus yang terpilih dan juga mahasiwa Fakultas Adab dan Hmaniora. Hadir Wakil Dekan I FAH yang membuka acara Rapat Kerja tersebut. "

Beberapa program kerja yang telah dirumuskan akan selanjutnya dilaksanakan dengan maksimal, diantaranya Adab Expo yang merupakan kegiatan besar, sehingg
a diharapkan kerja maksimal dan kolektif seluruh pengurus", kata Suriadi Ketua BEM-FAH.

Selasa, 18 Februari 2014

“DULCE ET UTILE”

Penulis : Delukman A  (Alumni BSI FAH) 

Dulce yang berasal dari bahasa latin bermakna Enjoyment dan Utile yang bermakna Usefulness. Dalam setiap karya sastra pastilah terdapat dua hal pokok tersebut; enjoy dan useful. Enjoy bisa bermaknya dalam karya sastra yang dibawakan pasti ada hiburan tersendiri (artistic insight). Usefulness merupakan hal yang tersirat dan tersurat dalam karya sastra tersebut, bisa berupa pesan, sindiran, opini, pernyataan, dan penyampaian rasa akan hal yang ingin disampaikan penulis.
Dulce et utile dapat juga berarti manis dan berguna manandakan bahwa sastra bukan saja manis untuk dinikmati sebagai sebuah karya, tetapi berguna. Dalam hal manisnya maka karya sastra itu dapat dilihat dari sudut pandang estetika, ataupun dari sisi intrinsik (strukturalisme murni). Apa yang ditampilkan seorang penulis atau pengarang adalah sangat mungkin memainkan keindahan bahasa dan imajinasi yang ia gunakan untuk menggugah pembaca, hingga saatnya pembaca akan merasa terbawa oleh suasana pada novel tersebut dan terserat dalam merasakan apa yang terdapat dalam novel tersebut atau disebut dengan dream in literature. Keindahan alur cerita (plot) dan juga penokohan (character) hingga pada konflik dan memuncak pada klimaks adalah keahlian seorang penulis dalam merangkai unsur intrinsik menjadi suatu yang menarik untuk kita nikmati.
Salah satu kegunaan karya sastra yang menarik banyak pemikir dan kritkus adalah kegunaan karya sastra terhadap dunia sosial (sosiologi sastra).  Bagaimana karya sastra itu dibentuk oleh masyarakat, kemudian masyarakat dibentuk oleh karya sastra. Karya sastra sangat penting kedudukannya dalam sebuah masyarakat. Seperti apa yang diutarakan oleh Wellek dan Warren (1976:94) Literature is a social institution, using as its medium language, a social creation. sastra sebagai sebuah institusi sosial dan juga sebagai media. Dalam fungsinya sebagai media maka sastra dapat menyampaikan apa yang terjadi dalam masyarakat. Apa yang kemudian dianggap taboo dan harus dijaga dalam masyarakat, karya sastra dapat membawanya menjadi sesuatu yang wajar untuk dibicarakan. Beberapa karya sastra yang menyimpang dari norma sosial contohnya salah satu karya dari William Shakespeare “Hamlet” dimana terdapat pertentangan nilai yang tidak wajar dalam kehidupan sehari-hari, tapi mungkin saja terdapat cerita yang sama dengan Hamlet dalam masyarakat.
Di indonesia ada juga karya sastra yang tertuang dalam puisi, novel, drama maupun roman yang menggambarkan situasi yang terjadi dalam masyarakat, sebut saja roman-roman Pramoedya Ananta Toer, novel dari Buya Hamka, Andrea Hirata dengan trilogi laskar pelanginya dan masih banyak lagi. Karya-karya tersebut menjadi salah satu media untuk menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat. Seperti awal kemunculan drama dan dalam proses perkembangannya, dramapun mencoba menguak apa yang terjadi dalam masyarakat dan membawa nilai-nilai kehidupan kedalam sebuah pergelaran dalam bentuk drama. Hal tersebut seperti yang terlihat dalam buku Samekto yang berjudul Ikhtisar Sejarah Kesusastraan Inggris,  dimana ada sebuah bentuk drama yang memperlihatkan setting waktu, tempat dan gerak (three unities) yaitu bentuk drama klasik. Drama klasik betul-betul menggambarkan apa yang terjadi pada seseorang berdasarkan pada fakta yang ada.
  Dalam Social Science Journal “sociology of literature creativity” (Goldmann, 1967:495-496). Goldmann memaparkan relasi antara manusia dengan lingkungannya, manusia dengan pengalaman yang ia dapatkan dari lingkungannya dan manusia sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri. Goldmann secara terperinci menyebutkan ada lima bagian penting antara sosial dan sastra, secara garis besarnya dapat diterjemahkan bahwa karya sastra yang dihasilkan oleh individu tidak terlepas dari apa yang telah dialaminya (experience). Apa yang dialami oleh seorang penulis (social background) akan berpengaruh pada kualitas karya sastra yang dihasilkan.
  Teori sastra berkembang juga sesuai dengan perubahan nilai-nilai, sosial dan bahkan ilmu pengetahuan yang terjadi dari masa ke masa. Dari sekian teori ilmu yang baru berkembang pada abad -19, maka sosiologi menjadi salah satu teori yang banyak diacu oleh para kritikus atau pun para ahli teori sastra. Hal itu tak terlepas dari fungsi karya sastra sebagai media untuk menggambarkan kehidupan sosial ataupun sebagai kitik sosial terhadap apa yang terjadi pada saat itu. Sebuah karya sastra dapat menjadi propaganda atas apa yang diinginkan atau sesuatu yang diperjuangkan. Seperti yang kita ketahui bahwa sosiologi sastra yang digunakan diawal kemunculannya adalah untuk menjadi sebuah kritik terhadap apa yang terjadi pada masyarakat. Dimana terjadi pergolakan antara kaum kapitalis dan kaum sosialis yang memperjuangkan sesuatu yang menurut mereka harus diperjuangkan demi kehidupan yang lebih layak. Maka karya sastrapun dijadikan sebagai jembatan untuk menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi dan menyampaikan pesan yang berbau sosialis untuk menentang kaum kapitalis.
  “Litterature is an attempt to make sense of our lives, and Sociology is an attempt to make sense of the ways in which we live our live”, demikian dikatakan Tom Burns dan Elizabeth Burns dalam Pengantar bukunya berjudul Sociology of Literature and Drama (1973: 9). Pendapat ini mendukung apa yang diakatakan oleh Plato yaitu “mimesis” , bahwa karya sastra adalah gambaran tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan kita.
Kritik yang dilakukan oleh kaum-kaum Sosiolis telah menyentuh dunia sastra dengan tulisan kritik mereka seperti  Karl Marx, Max Weber, Proudhon sampai dengan Taine, bahkan kalau mau ditelusuri lebih jauh nama Montesquieu dan Jean-Jacques Rousseau tidak dapat kita abaikan. Kajian sosiologis bersifat kritis terhadap “claims” tentang “values of achievement”, dan juga terhadap asumsi-asumsi yang berkaitan dengan perilaku manusia.
Dengan demikian, menurut Rene Wellek, dalam kajian sosiologi sastra,  kita dihadapkan pada tiga hubungan antara sastra dan masyarakat: 1) Sosiologi pengarang, kepengarangannya dan lembaga sastra, pertanyaan-pertanyaan sekitar basis ekonomi dalam penciptaan sastra, latar belakang sosial dan status pengarang, ideologi sosial yang dianutnya baik sadar maupun tidak, 2) Masalah substansi sosiologis, implikasi dan makna sosial dari karya sastra itu sendiri, 3) Masalah resepsi pembaca dan pengaruh sosial sastra terhadap masyarakat, (Wellek, 1976: 96).
Dalam hal ini sosiologi pengarang sangat berpengaruh untuk mempengaruhi pengarang dalam membuat sebuah karya sastranya. Kemudian akan berimbas pada karya yang dihasilkan, apa yang didapat dalam lingkungan maka cenderung akan diimplementasikan dalam karya sastra yang diciptakan. Karya sastra yang akan berpengaruh pada pembaca, hingga melibatkan luapan emosianal (catharsis) (Ratna, 2011:164). Pembaca sebagai penikmat sebuah karya sastra akan turut andil dalam perubahan sosial yang berlaku dalam masyarakat.
Bagian terpenting dalam sosiologi sastra adalah ketiga faktor yang diatas, yaitu (1) sosiologi pengarang, bagaimana pengarang mendapatkan apa yang terjadi dalam masyarakat kemudian menuangkannya dalam karya sastra. Seperti apa yang dikatakan oleh Goldmann bahwa seorang penulis karya sastra tidak terlepas dari apa yang telah dialami. Apa yang telah dialami oleh seorang penulis akan berpengaruh besar terhadap sikap, sifat, pola pikir dan juga ideologi. (2) kualitas yang terkandung dalam karya sastra yang dihasilkan akan memperlihatkan bagaimana seorang penulis mendapatkan ide yang ia tuangkan dalam karya sastranya, tentunya hal tersebut terlepas pada kaindahan bahasa yang digunakan. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah kualitas cerita yang disampaikan. Nilai yang tertuang dalam karya sastra tersebut dapat juga menggambarkan keadaan sosial penulis. karya sastra tersebut berlanjut pada pengaruhnya terhadap pembaca (3) resepsi pembaca terhadap karya sastra. Pada saat pembaca membaca karya sastra maka secara tidak langsung karya sastra tersebut akan mempengaruhi cara berfikir dan bertingkah laku.

Jumat, 15 November 2013

HMJ BSA : Mengembangkan Kemampuan Bahasa Arab

Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab kembali mengadakan kegiatan Syahrul Lail di Gedung D Kampus 1 UIN Alauddin pada 9 November 2013. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa bahasa dan sastra Arab. Hal ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kemampuan bahasa para mahasiswa bahasa Arab. Pada kegiatan tersebut, hadir Sekretaris Jurusan BSA dan Wakil Dekan III, Dr. H. Muh. Dahlan, M.Ag yang memberikan sambutan sekaligus membuka acara tersebut.

BEM FAH Melatih Kepemimpinan Mahasiswa

Dalam mengasah kepemimpinan mahasiswa Adab dan Humaniora, BEM Fakultas Adab dan Humaniora mengadakan kegiatan tahunan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM) di Gedung Fakultas Adab Lantai 2 pada tanggal 25-27 Oktober 2013. Peserta LKM sebanyak 80 orang, yang mayoritas di ikuti oleh mahasiswa semester I. Dalam kegiatan ini terdapat beberapa materi diantaranya, Kepemimpinan, Strategi Kepemimpinan Mahasiswa, Keorganisasian, Problem Solving dan beberapa materi lainnya. Selain mendengarkan materi, peserta juga diberikan kesempatan untuk melakukan presentasi makalah yang telah dibuat sebelumnya dan mendiskusikan bersama peserta yang lainnya. 

Jumat, 27 September 2013

HMI Komisariat Adab bersama BEM-FAH Datangkan Motivator Man Jadda Wajada

Motivator Akbar Zainuddin & panitia
Pengurus HMI Kom Adan & BEM-FAH
Baru-baru ini HMI Komisariat Adab dan Humaniora Cabang Gowa Raya bekerjasama dengan BEM-F Adab dan Humaniora  mengadakan Training Motivasi "Man Jadda WaJada" yang diadakan di LT Universitas Islam Negeri ALauddin Makassar pada Kamis 26 September 2013. Hadir Motivator dalam kegiatan tersebut yaitu Kanda Akbar Zainuddin yang juga merupakan penulis Buku Man Jadda Wajada : The Art Of Excellent Life. Sekitar 60-an mahasiswa ikut dalam training tersebut berasal dari mayoritas mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora terkhusus pada anggota HMI Kom Adab dan juga beberapa dari mahasiswa fakultas lainnya. Dalam motivasinya Akbar Zainuddin mengajak kepada peserta training untuk menjemput impian mereka melalui perencanaan hidup dan mengetahui potensi yang dimiliki masing-masing.

Jumat, 20 September 2013

Perjuangan KisSA di FTMI 9

Lakon Pemain "Dilarang Menyanyi di Dalam Kamar Mandi
Pada pengumuman nominasi-nominasi (8/9/2013) Festival Tetaer Mahasiswa Indonesia , akhirnya KisSA masuk 3 besar nominasi Peran Pembantu Wanita dan juga masuk dalam nominasi Musik namun belum berhasil meraih kategori terbaik dalam 2 nominasi itu. Meskipun demikian apa yang ditampilkan oleh Komunitas Seni Adab (KisSA) dengan lakon "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" menjadi prestasi tersendiri bagi pemain-pemain KisSA sendiri sebab diantara mereka sebagian besar merupakan pemain atau anggota baru yang telah menunjukkan hasil proses dan kegigihan berlatih. Bagi KisSA yang telah berpatisipasi selama 4 tahun di FTMI ini, mengikuti kegiatan ini merupakan sebuah jalan yang tidak mudah untuk sampai di Universitas Cokroaminoto dalam menampilkan usaha terbaik mereka. Bagi mereka mengikuti FTMI ini bukan hanya sekedar untuk Festival atau Lomba yang pada akhirnya harus menilai siapa yang terbaik, tapi tentunya ajang seperti ini bisa mengasah kemampuan para anggota dan juga memaknai apa yang dilakoni serta proses yang dilalui.

Kamis, 05 September 2013

Memaknai PMB 2013

Kirab PMB 2013
Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) 2013 baru saja berakhir. Sejumlah agenda yang dijalani mahasiswa baru memberikan kesan tersendiri buat mereka. Dimulai dari penyambutan dengan melakukan kirab dari gerbang kampus menuju fakultas sebagai bentuk langkah awal menuju fakultas Adab dan Humaniora. Tidak hanya sekedar seremoni belaka, namun kirab yang dilakukan ini sebagai petanda bahwa dengan barisan yang kokoh dan teratur kita bisa menuju pada satu titik yang diinginkan. Balutan pakaian seperti sarung dan juga berbagai hiasannya menjadikan fakultas Adab dan Humaniora sebagai sebuah identitas yang tidak meninggalkan budaya lokal dan nilai-nilai islam.

Dalam kesempatan itu, para unsur pimpinan fakultas, jurusan, dosen beserta staff dan tata usaha ikut memperkenalkan diri dan tugasnya agar mahasiswa baru mengetahui alur administrasi, akademik dan kemhasiswaan. Selain itu juga mahasiswa baru diberikan materi-materi yang dapat memberikan pencerahan agar nantinya menjadi mahasiswa yang tidak hanya cerdas didalam kuliah tetapi juga diluar dari mengikuti kuliah. Dengan adanya PMB 2013 ini, diharapkan dapat terbangun silaturahmi yang baik sehingga komunikasi antar mahasiswa dan juga dosen serta pimpinan dapat berjalan secara harmonis. Hal ini perlu di maknai, sebab sebagaimana kondisi kampus saat ini yang kelihatannya kehilangan kepercayaan atau kasih sayang.   

Fenomena kampus saat ini rupanya memang berada pada titik yang cukup memprihatinkan, dimana sebagian dari pimpinan kampus maupun dosen seakan tak mendekatkan diri mereka dalam suasana keakraban kepada mahasiswa layaknya seorang bapak dan anak. Hal ini juga belum terlepas dari posisi mahasiswa yang sepertinya dijadikan objek bukan subjek dari pendidikan sehingga memungkinkan mahasiswa berprasangka buruk oleh setiap kebijakan. Melalui momen PMB 2013 ini diharapkan muncul kesadaran bersama bahwa pentingnya sebuah lingkungan yang "bersahabat dan berkeluarga" sehingga apa yang dicitakan seperti pencerdasan, pencerahan dan prestasi itu bisa tercapai. Dan pada akhirnya, mahasiswa hadir untuk menegaskan diri mereka adalah manusia yang bukan manusia sempurna.

THE DEATH OF ROMANCE

Spanduk Kritikan Penyambutan Mahasiswa Baru 2013
Sendi-sendi peradaban kini bergerak kaku,  lamban, dan terlampau mudah ditebak. Dunia telah kehilangan penyihir, dan peramalnya. Para tenung terkurung di antara gedung-gedung tinggi menjulang. Bintang-bintang kehilangan cahayanya di malam hari, dan di siang hari matahari hanya menciptakan bayangan tanpa kehangatan. Malam sebagai talang untuk berkontemplasi terganti oleh perbincangan abal-abal lewat jejaring sosial. Maka tak ayal para nabi begitu skeptik meramalkan abad kita ini tak akan lagi ada manusia yang bertemu jibril lewat mimpi. Sebab mimpi kita telah diatur sedemikian rupa untuk semata-mata mengejar kekayaan dan kehormatan.
Pikiran romantik pernah berkali-kali bereinkarnasi menantang kemapanan. Peradaban sesekali tersadar, merongrong pemimpin-pemimpin salim lalu kembali meredup seiring munculnya tirani. Romantik mengajarkan manusia agar tak perlu merasa takut karena mereka hidup di bumi manusia. Ia mengajarkan pula tentang cinta dan kasih pada sesama, mengerti hak masing-masing tanpa harus mengerahkan kekuasaan untuk menaklukkan dan merebut hak orang lain.
Pada mulanya adalah kata. Kata mengutarakan bahasa, dan bahasa tercipta untuk mengungkapkan perasaan cinta. Namun masa romantik telah kronis. Nafasnya tersengal oleh sumpalan laras, dan pentungan. Kata-kata kasar, gertakan, dan cacian telah menyelimuti kota. Manusia digunakan sebagai alat peradaban bukan tujuan. Saintis mendesain mesin, Guru-guru sibuk mencetak buruh, dan ahli dan penegak hukum hanya terfokus membangun penjara. Kampus tak lagi menciptakan manusia.
Ketakutan adalah pembunuh rasa kemanusiaan yang paling nyata. Kekerasan dan pembunuhan dilegalkan negara. Keluwesan berfikir manusia dipandang sebagai energi negatif yang mesti dibasmi. Sistem sekuriti diperketat. Perguruan tinggi yang diharapkan sebagai pabrik pencetak peradaban gagal mengkonstrusi cinta dengan hadirnya pengamanan yang berlebihan. Manusia kehilangan rasa ramah. Mau tak mau ketidakpercayaan antara satu sama lain harus dibayar mahal dengan pengamanan. Padahal kita lupa sebuah falsafah yang mendunia bahwa cinta dapat mengubah segalanya, ataukah kita tak lagi percaya pada cinta?

BEM-F ADAB DAN HUMANIORA

Minggu, 01 September 2013

KisSA Akan Tampil di FTMI 9 S2UCP Palopo

Komunitas Seni Adab KisSA UIN Alauddin Makassar akan mengikuti kegiatan Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) 9 Se Sul Sel Bar di Universitas Cokroaminoto (UNCOK) Palopo pada tanggal 3 s/d 9 September 2013. Pada FTMI 9 ini, KisSA akan menampilkan lakon "Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi" diadaptasi dari Cerpen oleh Gusmel Riyadh.

Dalam lakon ini menceritakan tentang suara yang "serak-serak bahasa" oleh seorang gadis yang mengguncang imajinasi para lelaki yang berkeluarga di sebuah gang. Dukung dan saksikan lakon mereka. 
FB KisSA
Blog FTMI
FB FTMI 9


Selamat Datang calon Manusia

"Saintis mendesain mesin, Guru-guru sibuk mencetak buruh, dan ahli dan penegak hukum hanya terfokus membangun penjara. Kampus tak lagi menciptakan manusia."




"Cinta dapat mengubah segalanya, ataukah kita tak lagi percaya pada cinta ?"

Rabu, 21 Agustus 2013

Pengumuman Penting Mahasiswa Baru 2013



Disampaikan kepada Mahasiswa Baru (MABA) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar Tahun Akademik 2013/2014 agar melakukan Pendaftaran Jas Almamater dan Pengambilan Persyaratan untuk mengikuti Penyambutan Mahasiswa Baru tingkat Fakultas, yang akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal  : Senin-Kamis, 26-29 Agustus 2013
Jam                 : 08.00-13.00 WITA
Tempat           : Lantai 1 Fakultas Adab dan Humaniora

Penyambutan Mahasiswa Baru / Pembukaan Kuliah Tingkat Universitas dilaksanakan Insya Allah pada :
Hari / Tanggal : Senin, 02 September 2013
Jam                  : 07.30 –15.00 Wita
Tempat            : Gedung Auditorium Kampus 2 Samata

Penyambutan Mahasiswa Baru Tingkat Fakultas dilaksanakan Insya Allah pada :
Hari / Tanggal : Selasa - Rabu, 03 - 04 September 2013
Jam                  : 07.30 - 15.00 Wita
Tempat            : Fakultas Adab dan Humaniora

Lihat juga di sini 
Jangan Lupa Like Page Facebook --> BEM-FAH untuk dapatkan informasi terbaru kami atau berteman dengan --> BEM-FAH 

Minggu, 07 Juli 2013

Adab (AFC) Juara di Turnamen Sepakbola FIK

Juara I
Baru-baru ini mahasiswa fakultas Adab dan Humaniora yang tergabung dalam Tim Sepakbola Adab Football Club (AFC) berhasil menjuarai turnamen sepakbola yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Kesehatan di Lapangan Kampus II UIN Alauddin Makassar. Perjuangan AFC untuk sampai di final dan menjadi juara cukup berat namun mampu di menangi setiap pertandingan. Dimulai dari laga penyisihan yang melawan 2 tim dari Kesehatan dengan skor kemenangan 3-0 dan 3-1. Selanjutnya pada semifinal mengalahkan Tim MPI dengan skor 3-2 dan yang paling dramatis adalah pertandingan final, dimana pada pertandingan tersebut sempat ketinggal 2 gol di babak pertama, AFC kemudian mampu menyamakan skor dibabak kedua. Sehingga pertandingan final di lanjutkan dengan tambahan waktu, menjelang tambahan waktu (ekstra time) kedua akan berakhir akhirnya salah satu penyerang dari AFC mampu melesakkan bola kegawang tim dari Ushuluddin.

Selasa, 25 Juni 2013

Membangun Karakter Mahasiswa Humanis yang Beradab dan Berperadan

Peran dan fungsi mahasiswa dalam sebuah perguruan tinggi sangat urgen, karena maju mundurnya sebuah kampus ditentukan oleh mahasiswanya sendiri, maka tak salah jika mahasiswa adalah salah satu penentu kemajuan kampus dan bangsa. Melihat kondisi kebangsaan saat ini maka semestinya mahasiswa mulai berbenah diri untuk menjadi harapan dan semangat untuk bangsa, namun tentunya kita harus menyadari bahwa kampus harus bekerja ekstra untuk melahirkan mahasiswa yang berkarakter beradab dan berperadaban.
Perguruan tinggi Islam sebagai tempat masyarakat intelektual islami senantiasa membangun suasana kultur akademis yang up date sehingga  arah pembangunan sumber daya manusia terarah sesuai dengan tuntunan zaman dan nilai-nilai keislaman. Maka tentunya di butuhkan regulasi dari pemegang kebijakan kampus untuk membangun semangat mahasiswa sehingga menjadikan gaya hidup dalam melakukan segala kegiatan. Semangat berpartisipasi aktif, kreatif, inovatif, dan kolektifitas mahasiswa akan membawa moralitas kampus.

Pelatihan Aksi dan Advokasi


Senin, 13 Mei 2013

Buku, Yang Kelam dan Nanti

Di muat di koran harian lokal Tribun Timur

(Refleksi Peringatan Hari Buku Sedunia 23 April 2013)

Irsan
Mantan Ketua BEM-FAH 2012
Dalam sejarah peradaban manusia, buku merupakan salah satu faktor yang sangat penting sebagai sebuah warisan pengetahuan yang akan terus dilestarikan. Dengan buku, orang-orang yang bergelut didunia intelektual dan dunia tulis-menulis dapat menyampaikan ide atau pikirannya. Ketika wacana mereka telah termuat dalam kompilasi tulisan dan dibingkai menjadi buku maka sesungguhnya dia telah melahirkan konstribusi karya untuk generasi selanjutnya atau orang-orang yang butuh informasi dan pengetahuan.
Jauh sebelum Indonesia meraih kemerdekaan, buku telah menjadi sebuah bacaan yang menginspirasikan perjalanan para tokoh-tokoh nasional dibangsa ini dalam mewujudkan kemerdekaan, seperti halnya Soekarno dan Moh Hatta. Mereka adalah orang-orang yang nampak berbeda daripada yang lain karena ketekunannya dalam mempelajari wacana-wacana pada buku yang dibacanya. Terlepas dari wacana berbagai aliran, muatan buku memang memungkinkan manusia terpengaruh dalam menjalani kehidupannya menuju kedewasaan berpikir maupun perilaku seseorang. Selengkapnya

Selasa, 07 Mei 2013

Amir Sial dalam Film KisSA

Baru-baru ini (24-26 April 2013), Komunitas Seni Adab (KisSA) mengadakan pemutaran film yang berjudul SIAL. Kegiatan ini diadakan selama 3 hari dengan 3 kali pemutaran film dalam sehari dan terdapat 3 film yang diputar. Pada pemutaram film tersebut hadir PD III dan Ketua Jurusan IP serta beberapa dosen fakultas Adab lainnya yang ikut memberikan apresiasi kepada anggota KisSA yang membuat karyanya. Sebagai PD III, Drs. H. Muh. Dahlan, M.Ag senantiasa mngharapkan mahasiswa fakultas Adab terus berkarya, sebab mnurutnya sekecil apapun karyanya, itu akan bermanfaat bagi siapapun. Dia juga menambahkan bahwa semoga di fakultas Adab terkhsusus KisSA akan terlahir calon-calon sutradara atau profesi apa saja yang berkenaan dengan dunia perfilman. 

Di sela-sela pemutaram film, Muh. Taufiq Syam yang merupakan Sutradara sekaligus ide cerita film di atas mengemukakan bahwa film tersebut secara langsung berkenaan dengan apa yang terjadi oleh sebagian mahasiswa di kampus kita terkhusus di fakultas Adab dan Humaniora. Film ini menceritakan seorang mahasiswa yang pada suatu hari dipenuhi kesialan, dan itu terjadi ditempatnya menuntut ilmu. Beberapa kebijakan dan larangan serta fasilitas minim yang ada dikampusnya menjadi salah satu faktor kesialannya, mulai dari air yang tak mengalir, dilarang memakai baju kaos, dilarang gondrong, dilarang merokok, dilarang buang sampah dan dilarang parkir ditempat tertentu. Selain itu juga dalam film ini di bumbuhi sebuah perasaan cinta oleh seorang mahasiswa yang menjadi pemeran utama yaitu Amir, yang pada akhir cintanya "bertepuk sebelah tangan". Amir adalah nama mahasiswa yang mengalami nasib sial itu.

Pada akhirnya apa yang kita tonton dari film tersebut, setidaknya ingin menyampaikan beberapa pesan yang sebenarnya perlu untuk direnungkan bagi siapapun yang menontonnya. Semoga lembaga pendidikan tempat Amir berpijak adalah lembaga yang memanusiakan manusia dan tidak menampakkan parktik kekuasaan dalam bentuk apapun dan dalam kapasitas apapun, sehingga seorang Amir memiliki kemerdekaan berpikir dan bertindak tanpa harus didikte oleh sebuah kebijakan yang sebenarnya hanyalah mengungkung kebebasan berekspresi. Amir akan terus punya cerita dan mungkin saja dia akan membuktikan bahwa penampilan fisik dalam hal rambut dan pakaian bukan ukuran untuk menilai kualitas dan kapasitas mahasiswa.